Keterbatasan akses internet masih menjadi tantangan nyata bagi pendidikan di wilayah pelosok Indonesia. Kondisi itu dirasakan langsung oleh warga Desa Wa Laya, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Di tengah keterbatasan tersebut, Amun Wincer mengambil langkah sederhana namun berdampak besar. Ia menyediakan akses internet mandiri menggunakan layanan satelit Starlink agar anak-anak di desanya bisa belajar tanpa harus menempuh jarak jauh. Dari sebuah warung kecil, Amun membuka pintu bagi masa depan pendidikan yang lebih setara.
Berangkat dari Pengalaman Pribadi Ketika Anak Sendiri Kesulitan Belajar
Keputusan Amun membeli perangkat internet satelit lahir dari pengalaman pribadi. Putri Amun kerap kesulitan mengerjakan tugas sekolah karena koneksi internet di desa tidak stabil. Ia bahkan harus berjalan ke rumah tetangga atau menuju desa lain hanya untuk mencari bahan pelajaran. Pengalaman itu mendorong Amun bertindak. Ia ingin memastikan anaknya, dan anak-anak lain di sekitar, bisa mengakses materi pembelajaran dengan mudah. Amun pun memasang Starlink dan membuka aksesnya untuk umum, khususnya bagi pelajar.
Jaringan Ada, Tapi Tak Cukup Solusi Saat Internet Seluler Gagal Mendukung
Di Desa Wa Laya sebenarnya sudah tersedia jaringan internet seluler. Namun kualitasnya sering naik turun dan tidak memadai untuk kebutuhan belajar daring. Aktivitas sederhana seperti membuka mesin pencari atau menonton video pembelajaran kerap terhambat. Kondisi inilah yang membuat anak-anak lebih memilih datang ke warung Amun. Dengan koneksi satelit, mereka bisa mencari referensi, mengunduh materi, dan menyelesaikan tugas sekolah tanpa gangguan berarti.
Tarif Bersahabat demi Pendidikan Rp 5 Ribu untuk 5 Jam Akses
Amun tidak menjadikan layanan ini sebagai ladang keuntungan. Ia menetapkan tarif Rp 5.000 untuk 5 jam akses internet. Bahkan, ia kerap memberi waktu lebih lama jika melihat anak-anak benar-benar fokus belajar. Menurut Amun, tujuan utama layanan ini bukan hiburan, melainkan pendidikan. Antusiasme pelajar terlihat jelas. Banyak anak datang membawa buku dan catatan, lalu duduk berjam-jam untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka.
Jam Malam dan Tanggung Jawab BersamaMenjaga Disiplin di Tengah Antusiasme
Tingginya penggunaan internet di kalangan pelajar membuat pemerintah daerah ikut memperhatikan dampaknya. Pemerintah Kabupaten Nunukan menerbitkan Surat Edaran Bupati tentang penerapan jam malam bagi peserta didik. Aturan itu melarang pelajar berada di kafe atau warung melewati pukul 21.00 Wita, kecuali dengan pendampingan orang tua atau tugas sekolah. Amun menyambut kebijakan tersebut dengan sikap kooperatif. Ia membatasi jam operasional dan memastikan anak-anak yang pulang lebih malam memang sedang mengerjakan tugas.
Kisah Amun Wincer menunjukkan bahwa solusi pendidikan tidak selalu menunggu proyek besar. Dengan kepedulian, keberanian, dan langkah nyata, seorang warga desa mampu membuka akses pengetahuan bagi generasi muda. Di pelosok Nunukan, internet dari warung kecil kini menjadi jembatan harapan bagi anak-anak untuk terus belajar dan bermimpi. Baca berita lain disini.


