Posted in

Aksi Jumbo Operator Telko Warnai Akhir 2025

Aksi Jumbo Operator Telko Warnai Akhir 2025
Aksi Jumbo Operator Telko Warnai Akhir 2025

Industri telekomunikasi Indonesia menutup tahun 2025 dengan rangkaian aksi korporasi berskala jumbo. Sejumlah operator besar menggelontorkan dana mendekati ratusan triliun rupiah untuk memperkuat bisnis infrastruktur, khususnya jaringan fiber optic (FO). Gelombang konsolidasi ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga April 2026 seiring rampungnya beberapa proses merger strategis.

Fokus utama para operator kini mengarah pada optimalisasi jaringan serat optik sebagai tulang punggung ekosistem digital nasional. Mereka melihat infrastruktur FO bukan lagi sekadar pendukung layanan, tetapi sumber pendapatan jangka panjang yang mampu menopang pertumbuhan bisnis data, cloud, pusat data, dan 5G.

Telkom Spin-Off Bisnis Fiber ke InfraNexia

Telkom mengambil langkah besar dengan memindahkan pengelolaan jaringan fiber optic ke entitas baru bernama PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia. Melalui aksi spin-off ini, Telkom ingin mengelola aset fiber dengan model bisnis yang lebih fokus dan agresif dalam monetisasi.

Saat ini, grup Telkom menguasai jaringan FO sepanjang sekitar 175.000 kilometer, terpanjang di Indonesia. Jaringan tersebut mencakup akses, agregasi, backbone, hingga kabel laut sepanjang 1.300 kilometer. Nilai transaksi spin-off tahap awal mencapai Rp 35,8 triliun.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa pengelolaan fiber membutuhkan pendekatan khusus agar mampu menghasilkan nilai maksimal dan membuka peluang kemitraan strategis. Selama ini Telkomsel menyumbang pendapatan sekitar Rp 14–16 triliun per tahun. Melalui skema baru, Telkom memproyeksikan potensi pendapatan jaringan fiber bisa menembus Rp 40 triliun per tahun.

Indosat Gandeng Arsari dan Northstar Bentuk FiberCo

Tak kalah agresif, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) membentuk perusahaan patungan FiberCo bersama Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo dan Northstar Group. Nilai kerja sama ini mencapai Rp 14,6 triliun dengan aset utama berupa jaringan fiber sepanjang 86.000 kilometer, termasuk kabel laut domestik dan backbone nasional.

Indosat dan Arsari masing-masing menggenggam 45 persen saham, sementara Northstar memegang sisanya. FiberCo akan beroperasi dengan model open-access, sehingga berbagai penyedia layanan bisa memanfaatkan infrastruktur tersebut secara terbuka.

CEO IOH Vikram Sinha menilai kolaborasi ini akan memperkuat fondasi digital Indonesia melalui pendekatan agile dan asset-light. Ia juga menegaskan bahwa hasil transaksi ini memberi ruang likuiditas bagi perusahaan untuk membagikan dividen besar tanpa mengganggu belanja modal pengembangan 5G.

Hashim dan Northstar Perkuat Kepercayaan Investor

Deputy CEO Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, menyebut infrastruktur digital kini sama vitalnya dengan energi fisik. Keterlibatan Arsari dan Northstar memberi sinyal kepercayaan kuat bagi komunitas investasi terhadap masa depan sektor digital nasional.

Kolaborasi jaringan FiberCo dengan Java Backbone milik Hashim diprediksi menciptakan ekosistem serat optik paling kompetitif, khususnya untuk melayani pusat data dan layanan korporasi.

Merger Moratelindo dan MyRepublic Perbesar Skala Bisnis

Di sisi lain, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) mengumumkan rencana merger dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia). Moratelindo akan menjadi entitas penerima penggabungan, sementara MyRepublic melebur ke dalam perusahaan hasil merger.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk sebagai pemilik MyRepublic akan menjadi pemegang saham pengendali tidak langsung dari entitas baru tersebut. Merger ini memperkuat posisi mereka sebagai pemain utama di bisnis infrastruktur digital dan layanan broadband.

Infrastruktur Digital Jadi Senjata Baru Operator

Gelombang konsolidasi ini menandai perubahan besar dalam strategi industri telko nasional. Operator tak lagi sekadar bertarung di layanan seluler, tetapi mulai memposisikan diri sebagai pengelola infrastruktur digital nasional.

Dengan dukungan modal besar, jaringan fiber yang masif, dan kolaborasi lintas sektor, industri telekomunikasi Indonesia bersiap memasuki era baru. Infrastruktur kini menjadi senjata utama untuk memenangkan persaingan di ekonomi digital masa depan. Baca berita lain disini.

Aksi Jumbo Operator Telko Warnai Akhir 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *