Dunia Jaringan

Perluasan 5G dalam Lompatan Teknologi

Jangan Sampai Desa Tertinggal dalam Lompatan Teknologi

Anggota Komisi I DPR RI, Andina Theresia Narang, menyatakan dukungannya terhadap rencana Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang akan memperluas jaringan 5G secara bertahap dalam Rencana Strategis 2025–2029. Ia menilai pengembangan 5G penting untuk meningkatkan daya saing nasional dan mendorong transformasi digital di berbagai sektor. Namun, Andina mengingatkan pemerintah agar percepatan teknologi ini tidak menggeser fokus utama, yaitu pemerataan akses internet hingga ke wilayah terpencil. Menurutnya, manfaat digitalisasi harus dirasakan seluruh masyarakat, bukan hanya penduduk kota besar.

Target 5G Masih Rendah, Konektivitas Dasar Belum Merata

Berdasarkan data Renstra Komdigi, cakupan sinyal 5G di wilayah permukiman hingga 2024 baru mencapai sekitar 4,44 persen dan ditargetkan naik menjadi 7 persen pada 2029. Angka tersebut menunjukkan bahwa 5G memang masih berada pada tahap awal pengembangan. Di sisi lain, cakupan 4G/LTE sudah menyentuh 97,16 persen wilayah permukiman. Meski demikian, Andina menilai angka itu belum sepenuhnya mencerminkan kualitas layanan di lapangan. Banyak daerah masih menghadapi sinyal lemah, kecepatan rendah, serta infrastruktur pendukung yang terbatas.

Ia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya mengejar label teknologi terbaru. Pemerintah perlu memastikan jaringan yang sudah ada benar-benar stabil, terjangkau, dan berkualitas sebelum memperluas layanan 5G secara masif.

Akses Internet Sekolah Jadi Sorotan

Andina juga menyoroti akses internet di sekolah yang baru mencapai 42,38 persen. Kondisi ini berdampak langsung pada proses pembelajaran digital dan kesiapan generasi muda menghadapi era teknologi. Sekolah di daerah terpencil sering harus mencari solusi alternatif ketika melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Guru dan siswa bekerja keras agar ujian tetap berjalan meski koneksi tidak stabil.

Menurutnya, anggaran Komdigi harus difokuskan pada wilayah yang belum terjangkau jaringan memadai. Pendidikan digital membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat agar kualitas pembelajaran meningkat secara merata.

Kalimantan Tengah dan Tantangan Blankspot

Sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Tengah, Andina mengungkapkan wilayahnya masih memiliki sekitar 255 titik blankspot. Meski jumlahnya menurun, masalah konektivitas tetap belum terselesaikan. Ia juga menyoroti kurang optimalnya koordinasi antara pemerintah daerah dan operator dalam pelaporan pembangunan BTS.

Andina mendorong pembagian peran yang jelas antara pemerintah pusat, daerah, dan operator. Pemerintah harus merancang skema pendanaan yang lebih efektif agar pembangunan jaringan merata. Transformasi digital akan berhasil jika fondasinya kuat dan inklusif. Tanpa pemerataan, sebagian wilayah saja yang bisa menikmati perluasan 5G, sementara daerah terpencil masih berjuang mengejar konektivitas dasar. Baca berita lain disini.

 

Admin 2

Recent Posts

Perbedaan 5G dan 4G dalam Penggunaan Sehari-Hari

Evolusi Jaringan Seluler yang Semakin Cepat Jaringan 5G menjadi generasi terbaru dalam teknologi seluler yang…

3 minggu ago

Lelang Frekuensi Tak Langsung Bikin Internet Ngebut

Tambahan Spektrum, Tapi Bukan Solusi Instan Rampungnya lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz memang…

4 minggu ago

Komdigi Masih Kaji Spektrum untuk 6G

Belum Ada Keputusan Final untuk 6G Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) masih mengkaji…

4 minggu ago

Tarif Biometrik SIM Disorot, ATSI Minta Turun

Tarif Verifikasi Dinilai Terlalu Tinggi Penerapan registrasi SIM card berbasis biometrik wajah mulai memunculkan perdebatan…

1 bulan ago

Jaringan Telstra Sempat Lumpuh

 Gangguan Besar di Pagi Hari Jaringan seluler terbesar di Australia sempat mengalami gangguan besar yang…

1 bulan ago

Registrasi SIM Kini Wajib Face Recognition

Sistem Lama Resmi Dihentikan Pemerintah mengambil langkah tegas untuk menutup celah penyalahgunaan nomor telepon seluler.…

1 bulan ago