Internet Cepat di Indonesia Ternyata Butuh Dua Kunci Utama
Pemerataan akses internet di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang terus dibahas oleh regulator, industri, dan akademisi. Di tengah meningkatnya kebutuhan digital, kecepatan dan pemerataan koneksi menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendidikan.
Berbagai teknologi broadband seperti FTTH (Fiber to the Home), FWA (Fixed Wireless Access), dan mobile broadband kini dikembangkan secara bersamaan. Masing-masing teknologi memiliki keunggulan tersendiri, sehingga tidak bisa dipandang sebagai solusi tunggal.
Menurut Ian Josef Matheus Edward dari Institut Teknologi Bandung, pendekatan terbaik bukanlah memilih satu teknologi, melainkan menggabungkan beberapa solusi.
FTTH dikenal memiliki kapasitas besar dan koneksi yang stabil. Sementara itu, FWA menawarkan fleksibilitas tinggi dan dapat dipasang lebih cepat, terutama di wilayah yang sulit dijangkau jaringan kabel.
Pendekatan ini mempercepat pemerataan akses digital secara lebih efektif, dengan pembangunan infrastruktur yang menyesuaikan kondisi geografis serta kebutuhan masyarakat di setiap daerah.
Dari sisi kebijakan, Denny Setiawan menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong pembangunan jaringan yang merata. Pengembangan tidak hanya berfokus pada kota besar, tetapi juga menjangkau daerah dengan akses internet yang tertinggal.
Pengembang mengarahkan layanan broadband untuk menjangkau wilayah underserved. Komitmen pembangunan jaringan akan terus dipantau agar target pemerataan bisa tercapai.
Langkah ini penting karena masyarakat kini menganggap akses internet sebagai kebutuhan dasar dalam kehidupan modern.
Dari perspektif industri, Hendra Gunawan dari MyRepublic Indonesia menilai bahwa kombinasi teknologi merupakan strategi paling masuk akal.
FTTH tetap menjadi tulang punggung jaringan fixed broadband karena stabilitasnya. Namun, FWA berperan penting untuk memperluas jangkauan di wilayah yang belum terhubung fiber.
Pendekatan ini mempercepat penetrasi internet tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur kabel yang memakan waktu lama.
Dari sisi teknologi, Iman Hirawadi dari ZTE menjelaskan bahwa FWA kini semakin matang berkat dukungan jaringan 4G dan 5G.
Namun, tantangan berikutnya terletak pada harga perangkat. Agar adopsi meluas, pengembang perlu membuat perangkat FWA lebih terjangkau melalui skala ekonomi yang lebih besar.
Jika hal ini tercapai, lebih banyak masyarakat dapat menikmati akses internet cepat tanpa biaya tinggi.
Merza Fachys dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai bahwa setiap teknologi memiliki peran berbeda dalam ekosistem digital.
Fixed broadband menawarkan koneksi stabil, sementara mobile broadband memberikan fleksibilitas tinggi bagi pengguna. Pihak terkait harus menjaga keseimbangan keduanya agar layanan tetap berkelanjutan.
Di Institut Teknologi Bandung, para akademisi dan pelaku industri berdiskusi tentang hal ini. Pertemuan tersebut menegaskan satu hal: masa depan internet cepat di Indonesia bergantung pada kolaborasi berbagai solusi, bukan satu teknologi saja. Baca berita lain di sini.
Tarif Verifikasi Dinilai Terlalu Tinggi Penerapan registrasi SIM card berbasis biometrik wajah mulai memunculkan perdebatan…
 Gangguan Besar di Pagi Hari Jaringan seluler terbesar di Australia sempat mengalami gangguan besar yang…
Sistem Lama Resmi Dihentikan Pemerintah mengambil langkah tegas untuk menutup celah penyalahgunaan nomor telepon seluler.…
Sistem Lama Mulai Ditinggalkan Pemerintah resmi mengubah sistem registrasi kartu SIM dengan menghadirkan metode berbasis…
Dominasi Starlink Mulai Dapat Tantangan Industri internet satelit selama ini didominasi oleh Starlink, layanan milik…
Aturan Baru Registrasi SIM Mulai Juli 2026 Pemerintah akan menerapkan aturan baru registrasi kartu SIM…